Pertempuran Midway adalah pertempuran laut besar yang dianggap sebagai peristiwa paling penting dalam
medan Perang Pasifik Perang Dunia II.
[3][4][5] Pertempuran terjadi antara 4 Juni dan 7 Juni 1942, sekitar sebulan sesudah
Pertempuran Laut Koral dan enam bulan setelah
Pengeboman Pearl Harbor.
Angkatan Laut Amerika Serikat dengan telak meredam serangan
Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terhadap
Atol Midway, dan mengakibatkan kerugian tidak ternilai dan merebut inisiatif strategis dari Angkatan Laut Jepang.
[6]
Serangan Jepang, seperti halnya serangan ke Pearl Harbor, dimaksudkan
untuk melenyapkan Amerika Serikat sebagai kekuatan strategis di
Pasifik, agar Jepang dapat bebas mendirikan
Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Pihak Jepang berharap kekalahan berikutnya akan mendemoralisasi Amerika Serikat hingga dapat dipaksa bernegosiasi mengakhiri
Perang Pasifik dengan syarat-syarat yang menguntungkan Jepang.
[7]
Rencana Jepang disusun untuk memancing kapal induk Amerika Serikat yang jumlahnya hanya sedikit hingga masuk ke dalam jebakan.
[8]
Jepang juga bermaksud menduduki Atol Midway sebagai bagian dari rencana
menyeluruh memperluas garis luar pertahanan mereka sebagai respons dari
Serangan Udara Doolittle. Operasi ini dianggap sebagai persiapan serangan Jepang selanjutnya ke
Fiji dan
Samoa. Rencana ini cacat akibat kesalahan asumsi Jepang tentang reaksi Amerika Serikat dan pengambilan keputusan yang kurang baik.
[9]
Pemecah kode
Amerika berhasil memecahkan sandi Jepang tentang tanggal dan lokasi
serangan, dan memungkinkan Angkatan Laut Amerika Serikat menyusun
rencana penyergapan tiba-tiba. Empat
kapal induk dan sebuah
kapal penjelajah berat Jepang tenggelam, sementara pihak Amerika Serikat kehilangan sebuah kapal induk dan sebuah
kapal perusak.
Kerugian besar berupa tenggelamnya empat kapal induk dan tewasnya
penerbang dalam jumlah besar melemahkan kekuatan Angkatan Laut
Kekaisaran Jepang.
[10] Jepang tidak mampu lagi menyaingi kecepatan Amerika Serikat dalam membangun kapal-kapal perang dan melatih penerbang baru.
[sunting] Arti strategis
Sebelumnya, Jepang dengan cepat berhasil mewujudkan semua sasaran awalnya dalam perang, termasuk pengambilalihan
Filipina, invasi ke
Malaya dan
Singapura, mengamankan kawasan sumber daya penting di
Pulau Jawa,
Kalimantan, dan pulau-pulau lain di
Hindia Belanda.
Rencana pendahuluan untuk sasaran fase kedua dimulai pada awal Januari
1942. Namun, formulasi strategi yang efektif menjadi terhambat akibat
perbedaan strategi antara
Angkatan Darat Kekaisaran dan Angkatan Laut Kekaisaran, dan pertentangan internal antara
GHQ dan
Armada Gabungan Laksamana Isoroku Yamamoto. Strategi perang yang berikutnya baru dapat diselesaikan pada April 1942.
[11]
Semuanya berkat kemenangan perjuangan birokratis Laksamana Yamamoto
dapat meletakkan konsep operasional yang lebih banyak menekankan kepada
operasi-operasi militer lanjutan di Pasifik Tengah dibandingkan
rencana-rencana lain. Rencana Yamamoto termasuk operasi militer langsung
maupun tidak langsung yang ditujukan ke Australia dan Samudra Hindia.
Pada akhirnya, Yamamoto secara tidak langsung mengancam untuk
mengundurkan diri bila dirinya tidak berhasil melaksanakan agenda-agenda
yang disusunnya.
[12]
Keprihatinan Yamamoto yang paling utama adalah kapal-kapal induk
Amerika yang masih tersisa, dan menurutnya harus dihancurkan karena
merupakan penghalang utama bagi kesuksean kampanye militer secara
menyeluruh. Keprihatinan ini jelas terbukti setelah terjadi
Serangan Udara Doolittle terhadap Tokyo (18 April 1942) yang dilakukan pesawat-pesawat
B-25 USAAF dari kapal induk
USS Hornet.
Walaupun secara militer dianggap tidak penting, serangan udara ini
sempat mengejutkan orang Jepang secara psikologis dan menunjukkan
kelemahan pertahanan udara di sekeliling pulau-pulau utama di Jepang.
[13]
Satu-satunya cara menihilkan ancaman ini adalah dengan menenggelamkan
kapal induk Amerika Serikat dan merebut Midway, satu-satunya kepulauan
strategis di Pasifik timur selain Hawaii. Yamamoto beralasan bahwa
operasi militer terhadap pangkalan kapal induk utama di
Pearl Harbor
akan mengurangi kemampuan Amerika Serikat untuk berperang. Namun,
mengingat begitu kuatnya supremasi udara Amerika yang berpangkalan di
Hawaii, pangkalan Amerika diputuskannya untuk tidak diserang secara
langsung.
[14] Sebagai gantinya, Yamamoto memilih Midway yang terletak di ujung barat laut rangkaian
Kepulauan Hawaii, sekitar 1.300 mil (2,100 km) dari
Oahu.
Midway tidak begitu penting dalam rencana perang Jepang, namun pihak
Jepang merasa Amerika Serikat akan menganggap Midway sebagai pos
terdepan menuju Pearl Harbor yang dianggap penting, dan karena itu akan
dipertahankan dengan kuat.
[15] Amerika Serikat memang menganggap Midway sebagai pos yang penting; setelah pertempuran usai, pendirian pangkalan
kapal selam
Amerika Serikat di Midway memungkinkan kapal selam yang berpangkalan di
Pearl Harbor untuk mengisi bahan bakar serta perbekalan, dan
memperpanjang radius operasi hingga 1.200 mil (1,900 km). Sebuah
lapangan udara di Midway dipakai untuk melayani titik perhentian paling
depan untuk serangan pesawat pengebom ke
Kepulauan Wake.
[16]
[sunting] Rencana Yamamoto
Atol Midway, beberapa bulan sebelum pertempuran. Dalam foto, sebelah
depan adalah Pulau Timur (lapangan udara), di belakangnya agak ke barat
adalah Pulau Sand lebih lebih besar.
Sama halnya dengan perencanaan perang angkatan laut Jepang selama Perang Dunia II, rencana pertempuran Yamamoto sangatlah rumit.
[17] Selain itu, rencana yang disusun Yamamoto didasarkan data intelijen yang optimis, dan memperhitungkan
USS Enterprise dan
USS Hornet
(keduanya membentuk Gugus Tugas 16) sebagai kapal induk yang tersisa
untuk Armada Pasifik Amerika Serikat waktu itu. Kapal induk
USS Lexington sudah tenggelam, sementara
USS Yorktown rusak berat (dan pihak Jepang percaya sudah tenggelam) di
Pertempuran Laut Koral sebulan sebelumnya. Pihak Jepang juga tahu bahwa
USS Saratoga sedang menjalani perbaikan di
Pantai Barat setelah menderita kerusakan akibat tertembak
torpedo dari sebuah kapal selam.
Meskipun demikian, hal yang paling penting adalah keyakinan Yamamoto
bahwa Amerika Serikat sudah mengalami demoralisasi akibat kekalahan
berturut-turut enam bulan sebelumnya. Yamamoto berpikir bahwa dirinya
dapat memancing armada Amerika Serikat ke dalam situasi yang fatal.
[18] Ia membuat kapal-kapalnya saling berpencar (terutama
kapal tempur
yang dimilikinya) hingga sangat kecil kemungkinan kapal-kapalnya
ditemukan kapal-kapal Amerika sebelum pertempuran berlangsung.
Kapal-kapal tempur dan kapal penjelajah Yamamoto akan membuntuti kapal
induk di bawah Laksamana
Nagumo Chūichi
dalam jarak beberapa ratus mil. Armada Jepang dimaksudkan untuk
menghancurkan semua kapal dalam armada Amerika Serikat yang mendekat ke
Midway, setelah mereka sudah cukup menjadi lemah akibat serangan kapal
induk di bawah komando Nagumo, dan siap dihabisi dalam duel meriam di
tengah hari,
[19] seperti halnya doktrin pertempuran yang umum dimiliki sebagian besar angkatan laut di dunia.
[20].
Tanpa sepengetahuan Yamamoto, Amerika Serikat telah memecahkan sandi angkatan laut Jepang (disebut
JN-25
oleh Amerika Serikat). Penekanan Yamamoto pada formasi kapal yang
saling terpencar juga berarti di antara formasi kapal tidak dapat saling
membantu. Meskipun kapal induk diharapkan menjadi tulang punggung
serangan dan harus mampu menahan serangan balasan Amerika, kapal-kapal
perang yang jauh lebih besar dari kapal-kapal perusak yang melindungi
armada Nagumo hanyalah dua kapal tempur dan tiga kapal penjelajah.
Sebenarnya armada Yamamoto dan Kondo masih memiliki dua kapal induk
ringan, lima kapal tempur, dan enam kapal penjelajah, namun tidak ada
satu pun di antaranya yang dikirim ke Midway.
[21]
Jauhnya jarak antara kapal-kapal pengawal dan kapal induk juga
berdampak serius terhadap pertempuran. Kapal-kapal perang berukuran
besar dalam armada Yamamoto dan Kondo membawa
pesawat pengintai yang tidak bisa dipakai oleh Nagumo.
[22]
[sunting] Invasi Kepulauan Aleut
Operasi militer Jepang di
Kepulauan Aleut (disingkat Operasi AL; AL singkatan untuk
Aleutian Islands)
juga mengurangi jumlah kapal-kapal yang sebenarnya bisa dipakai untuk
menyerang Midway. Kalau sebelumnya buku-buku sejarah sering menyebut
Operasi Aleut sebagai usaha Jepang untuk mengecoh dan mengundang
kedatangan kapal-kapal perang Amerika Serikat, hasil penelitian yang
lebih baru mengungkap bahwa Operasi Aleut sebetulnya menurut rencana
dilancarkan secara bersamaan dengan serangan ke Midway.
[23]
Namun keterlambatan satu hari dalam perjalanan gugus tugas Nagumo
menjadikan Operasi AL dilancarkan sehari lebih awal daripada serangan
Midway.
[24]
[sunting] Persiapan pertempuran
[sunting] Pembangunan kekuatan Amerika Serikat
Dalam usaha menyiapkan diri melawan kekuatan musuh yang dapat mengerahkan empat hingga lima kapal induk sekaligus, Laksamana
Chester W. Nimitz
(Panglima Tertinggi, Kawasan Samudra Pasifik) membutuhkan semua kapal
induk yang dimiliki Amerika Serikat. Ia telah menyiapkan gugus tugas dua
kapal induk (
Enterprise and
Hornet) di bawah komando
Laksamana Madya William Halsey. Namun Halsey menderita
psoriasis dan digantikan oleh
Laksamana Muda Raymond A. Spruance (komandan kapal pengawal Halsey).
[25] Nimitz juga secara tergesa-gesa memanggil kembali gugus tugas yang dipimpin Laksamana Muda
Frank Jack Fletcher dari
Kawasan Pasifik Barat Daya. Fletcher sampai di Pearl Harbor tepat waktu untuk mengisi perbekalan dan diberangkatkan kembali.
Kapal induk
Yorktown sudah rusak parah akibat Pertempuran Laut Koral. Meskipun kapal ini menurut perkiraan butuh beberapa bulan untuk perbaikan di
Galangan Kapal Angkatan Laut Selat Puget, lift-lift pesawat yang dimilikinya masih utuh dan sebagian besar dek pesawat dalam kondisi baik.
[26] Galangan Kapal Angkatan Laut Pearl Harbor bekerja nonstop, dan dalam 72 jam,
Yorktown sudah kembali dalam keadaan siap tempur,
[27] dan dianggap cukup layak untuk dua hingga tiga minggu di laut, seperti yang dibutuhkan Nimitz.
[28] Dek landas pacu ditambal, dan seluruh bagian rangka dalam dipotong dan diganti, serta beberapa skuadron baru dikerahkan dari
Saratoga, namun mereka tidak memiliki waktu untuk berlatih.
[29]
Nimitz mengabaikan prosedur yang sudah ada dalam usahanya mempersiapkan
kapal induk ketiga sekaligus terakhir yang tersedia agar siap tempur.
Bahkan setelah
Yorktown diberangkatkan, pekerjaan perbaikan masih terus berlangsung. Perbaikan dilakukan oleh awak kapal reparasi
USS Vestal (kapal ini juga rusak akibat Serangan Pearl Harbor enam bulan sebelumnya) yang ikut dibawa oleh
Yorktown. Setelah tiga hari masuk dok kering di Pearl Harbor,
Yorktown sudah kembali bertugas lagi.
[30]
Di Kepulauan Midway, USAAF menempatkan empat skuadron
B-17 Flying Fortress bersama beberapa
B-26 Marauder. Korps Marinir memiliki sembilan belas pesawat pengebom tukik
SBD Dauntless, tujuh
F4F-3 Wildcats, tujuh belas Vought
SBU-3 Vindicators, dua puluh satu F2A-3
Brewster Buffalo, dan enam pesawat pengebom torpedo Grumman
TBF-1 Avenger yang diambil dari Skuadron Torpedo 8 (
VT-8) yang berpangkalan di
USS Hornet.
[sunting] Kelemahan Jepang
Sementara itu,
Zuikaku yang selesai bertugas di Pertempuran Laut Koral, sedang berada di
Kure
sambil menanti datangnya awak pesawat pengganti. Awak pesawat yang
tidak dapat dikumpulkan dengan segera merupakan kegagalan program
pelatihan awak Angkatan Laut Jepang yang sudah menunjukkan tanda-tanda
tidak bisa mengganti awak yang tewas atau luka.
[31] Instruktur dari
Korps Udara Yokosuka ikut dikerahkan untuk mengisi kekosongan.
[31] Shōkaku rusak berat akibat kejatuhan bom di Laut Koral dan perlu waktu berbulan-bulan untuk memperbaikinya di
dok kering. Walaupun ada kemungkinan pesawat-pesawat terbang dari kapal induk yang rusak bisa dikerahkan untuk
Zuikaku, pihak Jepang tidak berusaha serius untuk menyiapkan kapal induknya untuk bertempur.
[32] Sebagai akibatnya, Laksamana Nagumo hanya bisa mengerahkan empat kapal induk:
Kaga dan
Akagi sebagai
Divisi Kapal Induk 1 sementara
Hiryū dan
Sōryū sebagai
Carrier Division 2. Kapal-kapal induk Jepang telah terus-menerus beroperasi sejak 7 Desember 1941, termasuk di antara
Darwin dan penyerangan ke
Colombo.
Pesawat penyerang Jepang dikerahkan adalah
pesawat pengebom tukik Aichi D3A1 dan
Nakajima B5N2 yang dapat berfungsi sebagai
pesawat pengebom torpedo atau sebagai pesawat pengebom biasa. Pesawat tempur utama yang dikerahkan adalah
Mitsubishi A6M2 Zero yang bisa terbang cepat dan berkemampuan manuver yang tinggi.
[33] Kapal-kapal induk
Kido Butai
memang sedang menderita kekurangan pesawat andalan. Berdasarkan
berbagai alasan, produksi pesawat D3A telah dikurang drastis, sementara
produksi pesawat B5N sudah dihentikan secara total. Sebagai akibatnya
tidak ada pengganti untuk pesawat yang rusak atau hancur. Hal ini juga
berarti sebagian besar pesawat yang digunakan sepanjang operasi-operasi
bulan Juni 1942 adalah pesawat lama yang mulai digunakan sejak November
1941. Walaupun dipelihara dengan baik, pesawat-pesawat tersebut hampir
usang dan makin tidak dapat diandalkan. Sebagai akibatnya, kapal-kapal
induk Jepang dikerahkan dengan total pesawat yang kurang dari seharusnya
dan hanya sedikit pesawat cadangan.
[34]
Persiapan intelijen strategis Jepang sebelum pertempuran juga dalam
keadaan kacau. Kapal-kapal selam Jepang yang membentuk garis penjagaan
terlambat tiba (sebagian di antaranya disebabkan ketergesa-gesaan
Yamamoto). Akibatnya, kapal-kapal Amerika Serikat sampai di titik
pertemuan mereka di timur laut Midway (disebut
Point Luck), dan luput dari deteksi Jepang.
[35] Usaha kedua untuk pengintaian dilakukan dengan
kapal amfibi bermesin empat
Kawanishi H8K juga dibatalkan. Menurut rencana yang merupakan bagian dari
Operasi K,
Kawanishi H8K ditugaskan mengamat-amati Pearl Harbor sebelum
pertempuran dimulai (dan mendeteksi ada atau tidak adanya kapal induk
Amerika Serikat di sana). Namun, kapal-kapal selam Jepang yang dikirim
untuk mengisi bahan bakar pesawat pengintai mengetahui bahwa di lokasi
yang direncanakan sebagai titik pengisian ulang bahan bakar (teluk di
Gosong Fregat Perancis
yang sebelumnya selalu sepi) sudah disatroni kapal-kapal perang Amerika
Serikat (karena Jepang pernah melakukan misi serupa pada bulan Maret).
[36]
Oleh karena itu, sebelum pertempuran berlangsung, Jepang tidak punya
informasi tentang pergerakan kapal-kapal induk Amerika Serikat.
Walaupun demikian, intersepsi gelombang radio yang dilakukan Jepang
mencatat peningkatan aktivitas dan lalu lintas pesan kapal selam Amerika
Serikat. Informasi ini disampaikan ke Yamamoto sebelum pertempuran
berlangsung. Namun rencana Jepang tetap tidak diubah. Yamamoto yang
berada di atas
Yamato
tidak memberitahukan Nagumo tentang peningkatan aktivitas kapal selam
Amerika Serikat karena tidak ingin mengungkap lokasi dirinya, dan
mengasumsikan Nagumo sudah diberi tahu Tokyo tentang hal itu.
[37]
Namun antena radio Nagumo tidak dapat menerima transmisi gelombang
panjang, dan ia sama sekali tidak tahu tentang pergerakan kapal-kapal
Amerika Serikat.
[38]
[sunting] Pemecah sandi Sekutu
Laksamana Nimitz memiliki aset yang tidak ternilai, analis
kriptografi Amerika Serikat telah membongkar sandi angkatan laut Jepang
JN-25.
[39] Letnan Kolonel Laut
Joseph J. Rochefort dan timnya di
HYPO dapat melakukan konfirmasi bahwa Midway adalah target serangan Jepang yang berikutnya, dan 4 Juni atau 5 Juni sebagai
Hari-H, serta memberi tahu Nimitz data lengkap
order of battle (susunan kekuatan) Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.
[40] Usaha Jepang memperkenalkan buku sandi yang baru ditunda, hingga cukup memberi waktu
HYPO selama beberapa hari. Walaupun komunikasi Jepang dimatikan sebelum serangan dimulai, sandi-sandi Jepang sudah bocor lebih dulu.
[41]
Sebagai hasilnya, Amerika Serikat terjun dalam pertempuran dengan
pengetahuan yang tepat tentang di mana, kapan, dan jumlah kekuatan pihak
Jepang. Nimitz sudah tahu, misalnya, armada Jepang dibagi menjadi tidak
kurang dari empat gugus tugas, dan serangan akan datang dari kapal
induk yang hanya dilindungi sejumlah kecil kapal-kapal cepat.
Berdasarkan alasan ini, mereka tahu
senjata antipesawat
yang melindungi kapal-kapal Jepang akan terbatas. Menurut perhitungan
Nimitz, kekuatan kedua belah pihak akan seimbang. Empat kapal induk
Yamamoto melawan tiga kapal induk Amerika Serikat ditambah pangkalan
udara di Kepulauan Midway (terutama karena kekuatan udara kapal induk
Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan kekuatan lawan).
Sebaliknya, Jepang tetap tidak tahu susunan kekuatan lawan yang
sebenarnya, bahkan setelah pertempuran dimulai.
[42]
[sunting] Susunan kekuatan Pertempuran Midway
[sunting] Serangan udara pertama
Sembilan
B-17
yang berpangkalan di Midway diberangkatkan pukul 12.30 tanggal 3 Juni.
Empat jam kemudian mereka menemukan kelompok kapal-kapal angkut Jepang,
570 mil di sebelah barat.
[43] Di bawah hujanan tembakan antipesawat, mereka menjatuhkan bom-bom. Walaupun ada yang terkena,
[43] keseluruhan bom tidak ada yang mengenai sasaran, dan tidak ada kerusakan serius yang ditimbulkannya.
[44] Selepas tengah malam,
Akebono Maru menjadi korban pertama setelah dihantam sebuah torpedo dari
pesawat amfibi PBY sekitar pukul 01.00.
[44].
Pukul 04.30, 4 Juni, Laksamana Madya Nagumo melancarkan serangan
pertama ke Midway, diberangkatkannya 36 pesawat pengebom tukik Aichi D3A
dan 36 pesawat pengebom torpedo Nakajima B5N di bawah pengawalan 36
pesawat tempur Zero. Pada saat yang sama, Nagumo meluncurkan
patroli udara bersenjata (CAP) beserta delapan pesawat pengintai (satu pesawat dari kapal penjelajah berat
Tone terlambat berangkat 30 menit akibat masalah teknis).
Misi pengintaian Jepang disusun dengan ceroboh, terlalu sedikit
pesawat yang dikerahkan untuk meliput wilayah pencarian. Di bawah cuaca
buruk, mereka masing-masing terbang ke arah timur dan timur laut dari
gugus tugas Jepang.
[45] Disposisi salah Yamamoto telah menjadi penyebab masalah yang serius.
[46]
Radar Amerika Serikat mendeteksi musuh pada jarak beberapa mil dan
beberapa pesawat pengadang segera diberangkatkan. Pesawat pengembom
Amerika Serikat berangkat tanpa dikawal. Pesawat tempur yang mengawal
mereka ditinggal untuk mempertahankan Midway. Pukul 06.20, pesawat
terbang Jepang mengebom pangkalan Amerika Serikat di Midway hingga rusak
berat. Pilot-pilot tempur Marinir yang berpangkalan di Midway
menerbangkan pesawat-pesawat model lama yang terdiri dari
Grumman F4F-3 Wildcats[47] dan
Brewster F2A-3s
Buffalo. Mereka mengadang pesawat-pesawat Jepang dan menderita kerugian
besar, walaupun sempat menghancurkan empat pesawat pengebom Jepang dan
paling sedikit tiga pesawat Zero. Sebagian besar pesawat-pesawat Amerika
Serikat ditembak jatuh dalam beberapa menit pertama, beberapa pesawat
rusak, dan hanya dua pesawat yang masih bisa terbang. Total tiga pesawat
Wildcat dan 13 pesawat Buffalo ditembak jatuh. Tembakan senjata
antipesawat Amerika Serikat begitu akurat dan intensif, banyak pesawat
Jepang yang rusak dan sepertiga dari pesawat-pesawat Jepang hancur.
[48]
Satu kali lagi serangan udara diperlukan untuk melumpuhkan pertahanan
Midway sebelum pasukan dapat didaratkan pada 7 Juni. Pesawat pengebom
Amerika Serikat masih dapat menggunakan pangkalan udara di Midway untuk
mengisi bahan bakar dan menyerang kekuatan invasi Jepang.
[49]
Pesawat pengebom Amerika Serikat yang diberangkatkan dari Midway
sebelum lapangan udara diserang Jepang, melakukan beberapa kali serangan
terhadap armada kapal induk Jepang. Mereka terdiri dari enam
TBF Avenger yang awaknya baru pertama kali terjun dalam perang (dari
VT-8 kapal induk
Hornet) dan empat
USAAC B-26 Marauder
yang dipersenjatai dengan torpedo. Armada Jepang dapat mengatasi
serbuan mereka tanpa masalah. Semua pesawat penyerang hancur, hanya
tersisa satu TBF Avenger dan dua B-26. Hanya dua pesawat tempur Jepang
yang tertembak jatuh. Satu pesawat B-26 yang menjadi korban tembakan
antipesawat dari
Akagi tidak berusaha menaikkan moncong pesawat, dan hampir menerjang anjungan
Akagi.
Serangan tersebut membuat Nagumo memutuskan untuk mengirim sebuah
serangan lagi ke Midway. Keputusan Nagumo menyalahi perintah Yamamoto
yang menetapkan kekuatan udara harus disiapkan untuk dikerahkan
sewaktu-waktu dalam operasi antikapal.
[50]
Hiryū luput dari serangan B-17. Foto ini diambil antara pukul 08.00-08.30.
Shotai
dari tiga pesawat Zero dijajarkan dengan anjungan. Foto diambil dari
salah satu patroli udara bersenjata (CAP) yang dikerahkan pada hari itu.
[51]
Laksamana Nagumo mematuhi
doktrin
kapal induk Jepang waktu itu, setengah dari pesawat-pesawatnya tetap
siap sedia. Pesawat cadangan Nagumo terdiri dari dua skuadron pesawat
pengebom tukik dan dua skuadron pesawat pengebom torpedo yang disiapkan
untuk menyerang kapal-kapal perang Amerika Serikat bila ditemukan.
Pesawat pengebom torpedo sudah dipersenjatai dengan torpedo, sementara
pesawat pengebom tukik belum dipersenjatai.
[52]
Setelah mengetahui hasil serangan ke Midway, serta rekomendasi dari
pemimpin penerbangan pagi itu, pada pukul 07.15, Nagumo memerintahkan
pesawat-pesawat cadangan dipersenjatai dengan bom darat. Beberapa sumber
menulis bahwa pekerjaan memuat bom darat ke dalam pesawat sudah
berlangsung selama 30 menit, ketika pada pukul 07.40,
[53] pesawat pengintai dari kapal penjelajah
Tone
memberi isyarat ditemukannya sebuah armada angkatan laut Amerika yang
cukup besar di sebelah timur. Namun, bukti-bukti baru menunjukkan
laporan tersebut tidak sampai ke tangan Nagumo hingga pukul 08.00
sehingga pekerjaan mempersenjatai pesawat-pesawat dengan bom darat sudah
berlangsung selama 45 menit.
[54]
Nagumo segera membatalkan perintahnya, dan meminta pesawat pengintai
untuk memastikan rincian kekuatan Amerika Serikat. Empat puluh menit
berlalu sebelum pesawat pengintai dari
Tone membuka komunikasi radio tentang adanya sebuah kapal induk dari
Gugus Tugas 16 (keberadaan satu kapal induk lainnya tidak diketahui kapal pengintai).
[55]
Nagumo berada dalam kebingungan. Laksamana Muda
Yamaguchi Tamon yang memimpin Divisi 2 Kapal Induk (
Hiryū dan
Sōryū) meminta Nagumo segera menyerang dengan semua kekuatan yang dimiliki: 18 pesawat pengebom tukik
Aichi D3A2 yang masing-masing dimiliki oleh
Sōryū dan
Hiryū, serta setengah dari pesawat patroli dipersenjatai (CAP) yang ada.
[56] Kesempatan Nagumo untuk menyerang kapal-kapal Amerika,
[57]
telah terhalang oleh akan segera kembalinya pesawat-pesawat yang
selesai menyerang Midway. Mereka perlu mendarat atau harus mendarat
darurat di laut.
[58]
Operasi patroli bersenjata pada jam-jam sebelumnya menyebabkan
kesibukan terus menerus di dek pesawat. Pihak Jepang tidak memiliki
kesempatan untuk memberangkatkan pesawatnya. Beberapa pesawat yang ada
di dek ketika serangan dimulai adalah pesawat tempur patroli, atau
(dalam hal
Sōryū) pesawat tempur yang dipakai untuk membantu patroli.
[59] Mempersiapkan dek pesawat dan meluncurkan pesawat paling tidak butuh waktu 30–45 menit.
[60]
Selain itu, bila pesawat cadangan langsung diberangkatkan, Nagumo
berarti menugaskan mereka tanpa persenjataan antikapal yang layak.
Mereka baru saja menyaksikan betapa mudahnya menembak jatuh pesawat
pengebom Amerika yang tidak dikawal.
[61]
(Dalam pertempuran ini, disiplin yang kurang dari pilot pesawat
pengebom Jepang membuat mereka membuang bom-bom ke laut, dan mencoba
meladeni pesawat buru sergap F4F Amerika Serikat dalam duel udara.)
[62]
Reaksi Nagumo sesuai dengan doktrin karena doktrin kapal induk Jepang
menuntut serangan dilakukan bila telah direncanakan secara lengkap, dan
tidak diterimanya konfirmasi (hingga pukul 08.20) tentang keberadaan
kapal induk dalam armada Amerika Serikat.
[63]
Selain itu, serangan udara Amerika pada pukul 07.53 membuatnya merasa
perlu untuk melakukan serangan tambahan ke Midway. Pada akhirnya Nagumo
memilih untuk menanti hingga semua pesawat-pesawatnya mendarat, dan
memberangkatkan pesawat cadangan yang sudah dipersenjatai.
[64]
Keputusan Nagumo tidak dapat mengubah jalannya pertempuran.
Pesawat-pesawat Amerika Serikat yang siap memberi serangan fatal sudah
dalam perjalanan. Mereka sudah diberangkatkan Fletcher pada pukul 07.00.
Nagumo tidak lagi dapat berbuat apa-apa. Hal ini merupakan kelemahan
fatal dari Yamamoto yang secara teguh memegang doktrin kapal perang
tradisional.
[65]
[sunting] Serangan ke armada Jepang
Pesawat Devastator dari Skuadron Torpedo 6 (VT-6) di atas
USS Enterprise bersiap untuk lepas landas.
Sementara pihak Jepang dalam dilema, pesawat-pesawat Amerika Serikat
yang berpangkalan di kapal induk sudah diberangkatkan. Laksamana
Fletcher yang memegang komando di
Yorktown memerintahkan Spruance
untuk menyerang Jepang saat dirasakan memungkinkan. Keputusan ini
dibuat Fletcher berdasarkan laporan dari kapal pengebom patroli
PBY yang melihat armada Jepang pada dini hari,
[66]
Spruance sudah memberi perintah "Lancarkan serangan" pada sekitar pukul
06.00, dan menugaskan Panglima Tertinggi Halsey dan Kapten
Miles Browning
untuk menyusun perincian dan mengawasi keberangkatan. Beberapa menit
sesudah pukul 07.00, pesawat pertama berangkat dari kapal induk
Enterprise dan
Hornet
di bawah komando Spruance. Sekembalinya dari misi penerbangan intai,
Fletcher langsung mengikuti dengan memberangkatkan pesawat-pesawat dari
Yorktown pada pukul 08.00.
[67]
Pada saat itu, Spruance memberi perintah kedua yang sangat krusial,
hantam sasaran, menyerang musuh secepat mungkin dengan apa saja yang
dimiliki lebih penting daripada serangan terkoordinasi berbagai jenis
pesawat (pesawat tempur, pengebom, atau torpedo). Sebagai akibatnya,
skuadron Amerika menyerang tidak memakai rencana, tetapi dilakukan
berulang-ulang dalam berbagai cara, serta menyerang dalam berbagai
kelompok yang berbeda. Hal ini mengurangi keefektifan serangan Amerika,
dan memperbesar kerugian pihak Amerika Serikat. Namun secara tidak
sengaja, kemampuan Jepang untuk melakukan serangan balasan juga
berkurang. Nagumo beserta dek kapal-kapalnya berada dalam keadaan mudah
diserang.
Walaupun posisi musuh sudah diberi tahu, pesawat-pesawat dari kapal
induk Amerika Serikat menemui kesulitan menemukan sasaran. Pada
akhirnya, mereka melihat kapal induk Jepang dan mulai menyerang pada
pukul 09.20, diawali oleh Skuadron Torpedo 8 (
VT-8 dari
Hornet), dan diikuti
VT-6 (dari
Enterprise) pada pukul 09.40.
[68] Tanpa kawalan pesawat tempur, semua
TBD Devastator dari VT-8 ditembak jatuh tanpa sempat membuat kerusakan pada kapal musuh. Satu-satunya awak yang selamat adalah Letnan Muda
George H. Gay, Jr..
Skuadron Torpedo 6 menemui nasib yang sama, semua sasaran luput.
Kemampuan torpedo yang kurang baik termasuk salah satu penyebab
kegagalan.
[69] Patroli udara bersenjata Jepang yang terdiri dari pesawat-pesawat
Mitsubishi A6M2 "Zero"
yang berkecepatan tinggi, hanya perlu waktu sebentar untuk menghabisi
pesawat TBD Devastator yang kurang dipersenjatai, tidak dikawal, dan
terbang lambat. Walaupun semua TBD Devastator ditembak jatuh, pertama,
mereka membuat kapal-kapal induk Jepang sibuk, dan tidak sempat
meluncurkan serangan balasan. Kedua, serangan mereka membuat patroli
udara bersenjata Jepang keluar dari posisinya. Ketiga, pesawat-pesawat
Zero menjadi kehabisan amunisi dan bahan bakar.
[70] Munculnya serangan ketiga dari pesawat torpedo
skuadron VT-3
yang datang dari tenggara pada pukul 10.00 dengan cepat menarik
sebagian besar pesawat patroli bersenjata Jepang ke arah kuadran
tenggara armada.
[71] Disiplin yang lebih baik, dan pengerahan semua Zero yang dimiliki, mungkin dapat mendorong keberhasilan Nagumo.
[72]
Secara kebetulan, pada saat yang bersamaan dengan terlihatnya pesawat
dari skuadron VT-3 oleh pihak Jepang, dua formasi terpisah (dari total
tiga skuadron) pengebom tukik
SBD Dauntless
mendekati armada Jepang dari arah timur laut dan barat daya. Bahan
bakar mereka sudah hampir habis karena harus berputar-putar mencari
musuh. Walaupun demikian, komandan skuadron
C. Wade McClusky, Jr. dan
Max Leslie memutuskan untuk terus mencari musuh. Secara kebetulan, mereka menemukan kapal penjelajah Jepang
Arashi
yang sedang berlayar dengan kecepatan penuh untuk bergabung dengan
armada kapal induk Nagumo setelah gagal meledakkan kapal selam Amerika
Serikat
Nautilus dengan
bom laut. Sebelumnya,
Nautilus menyerang
kapal tempur Kirishima, namun gagal
[73]
Chester Nimitz
memuji keputusan untuk meneruskan pencarian yang diambil McClusky,
keputusannya "menentukan nasib gugus tugas kapal induk kita dan pasukan
kita di Midway..."
[74] Pesawat pengebom tukik Amerika tiba pada saat yang tepat untuk menyerang.
[75]
Pesawat-pesawat tempur Jepang lengkap dengan persenjataannya memenuhi
dek hanggar, selang bahan bakar malang melintang di atas dek karena
operasi pengisian bahan bakar dilakukan secara tergesa-gesa. Perubahan
perintah yang dapat terjadi setiap saat menyebabkan bom dan torpedo
ditumpuk di sekitar hanggar, dan bukan disimpan dengan aman di ruang
amunisi.
[76] Keadaan ini membuat kapal induk Jepang dalam keadaan rawan serangan.
Mulai pukul 10.22, pesawat-pesawat dari
Enterprise berulang kali mengenai
Kaga yang mereka jadikan sasaran. Di sebelah utara, empat menit kemudian,
Akagi terkena bom yang dijatuhkan pesawat pengebom dari
Enterprise. Pesawat-pesawat dari
Yorktown mengincar
Sōryū. Secara bersamaan, skuadron torpedo VT-3 menjadikan
Hiryū sebagai sasaran.
Hiryū sedang terjepit di antara
Sōryū,
Kaga, dan
Akagi,
namun lagi-lagi pesawat torpedo Amerika gagal menghantam sasaran.
Pesawat pengebom tukik ternyata lebih beruntung. Hanya dalam enam menit,
pesawat-pesawat SBD menjadikan sasaran-sasaran mereka dilalap api.
Akagi
terkena satu bom yang melubangi dek hanggar bagian atas, dan meledakkan
bahan bakar pesawat dan amunisi. Satu bom yang luput meledak di dalam
air dekat buritan hingga dek pesawat melengkung ke atas, serta kemudi
kapal rusak parah.
[77] Sōryū kejatuhan tiga bom di dek hanggar,
Kaga
kejatuhan paling sedikit empat, mungkin lebih. Ketiga kapal induk
tersebut segera tidak dapat lagi bertempur, ditinggalkan awak kapal, dan
dibocorkan hingga tenggelam.
[78]
[sunting] Serangan balasan Jepang
Yorktown dihantam oleh torpedo yang diluncurkan pesawat Jepang.
Hiryū, satu-satunya kapal induk Jepang yang tersisa, tidak
membuang-buang waktu, dan segera melancarkan serangan balasan. Serangan
gelombang pertama pengebom tukik Jepang membuat
Yorktown rusak berat. Tiga buah bom menghantam bagian boiler hingga
Yorktown
tidak lagi bisa bergerak. Namun tim pengendali kerusakan bisa
mengatasinya (dalam waktu kira-kira satu jam) dengan efektif. Serangan
gelombang kedua dari pesawat-pesawat pengebom torpedo kembali bisa
dihadapi oleh
Yorktown.
[79]
Walaupun pihak Jepang berharap dapat mengurangi kekalahan dengan
mencoba menenggelamkan dua kapal induk Amerika Serikat dalam dua kali
serangan,
Yorktown masih bisa mengatasi serangan Jepang. Pesawat-pesawat Jepang yang datang dalam gelombang kedua bahkan menyangka
Yorktown sudah tenggelam. Ketika menyerang
Yorktown, mereka menyangka sedang menyerang
Enterprise. Setelah terkena dua kali tembakan torpedo, mesin
Yorktown mati, dan condong 26°ke arah lambung kiri.
Yorktown tidak lagi bisa dipakai bertempur, dan memaksa Laksamana Fletcher untuk memindahkan staf komando ke kapal penjelajah berat
Astoria. Dua kapal induk dari Gugus Tugas 16 di bawah komando Spruance selamat dari kerusakan.
Berita tentang keberhasilan dua gelombang serangan yang
"masing-masing" menenggelamkan sebuah kapal induk Amerika Serikat,
meningkatkan moral prajurit
Kido Butai. Pesawat-pesawat Jepang yang tersisa dikumpulkan di atas
Hiryū. Mereka dipersiapkan untuk menyerang kapal induk Amerika Serikat yang menurut perkiraan pihak Jepang hanya satu yang tersisa.
Hiryū, beberapa saat sebelum tenggelam.
Menjelang sore, pesawat pengintai dari
Yorktown menemukan lokasi
Hiryū. Kapal induk
Enterprise segera melancarkan serangan terakhir yang terdiri dari pesawat-pesawat pengebom tukik (termasuk 10 pesawat pengebom dari
Yorktown). Serangan mereka tepat mengenai sasaran.
Hiryū terbakar hebat. Lebih dari selusin pesawat Zero tidak mampu mempertahankan
Hiryū. Laksamana Madya Yamaguchi memilih mati tenggelam bersama
Hiryū, dan membuat Jepang harus kehilangan salah satu dari pelaut karier terbaiknya. Serangan pesawat-pesawat yang berpangkalan di
Hornet
terlambat diberangkatkan karena kesalahan komunikasi. Mereka
berkonsentrasi pada kapal-kapal pengawal yang tersisa, namun tidak ada
hasilnya.
Setelah hari mulai gelap, kedua belah pihak menghitung kerugian dan
membuat rencana sementara untuk kelanjutan pertempuran. Laksamana
Fletcher yang terpaksa meninggalkan
Yorktown karena sudah rusak
berat, merasa tidak dapat menjalankan komando dari kapal penjelajah, dan
mengalihkan komando operasi ke tangan Spruance. Walaupun tahu pihak
Amerika Serikat telah menang, Spruance masih tidak tahu jumlah
kapal-kapal Jepang yang tersisa. Ia memutuskan untuk tetap menjaga
Midway dan kapal-kapal induknya. Mengingat para penerbang yang telah
melakukan misi terbang jauh, ia berusaha menghadapi Nagumo saat siang,
dan bertahan ketika malam tiba. Untuk menghindari kemungkinan bentrok
dengan armada Jepang pada malam hari,
[80] Spruance berubah haluan dan memundurkan armadanya ke timur, dan kembali ke arah barat menuju musuh pada tengah malam.
Di lain pihak, Yamamoto mulanya memutuskan untuk meneruskan
pertempuran, dan mengirim sisa-sisa kapalnya ke arah timur untuk mencari
kapal induk Amerika Serikat. Pada saat yang bersamaan, sebuah kapal
induk ditugaskannya untuk membombardir Midway. Kapal-kapal Jepang gagal
menemukan kapal-kapal Amerika karena Spruance memutuskan untuk mundur
sementara ke arah timur. Setelah itu, Yamamoto memerintahkan armadanya
untuk mundur ke arah barat.
Kapal-kapal pencari Amerika Serikat gagal menemukan armada Jepang
pada tanggal 5 Juni. Serangan sore hari hampir gagal menemukan armada
Yamamoto dan tidak mengenai sasaran. Pesawat-pesawat penyerang kembali
ke kapal induk setelah hari gelap, dan Spruance memerintahkan
Enterprise dan
Hornet menyalakan lampu-lampu sorot untuk membantu pendaratan.
[81].
Pada 02.15 tanggal 5 Juni–6 Juni,
Tambor
di bawah komando Letnan Kolonel Laut John Murphy memberikan kontribusi
bagi hasil akhir pertempuran. Ia (bersama perwira pelaksana, Ray
Spruance, Jr.) melihat sejumlah kapal, namun tidak bisa mengidentifikasi
lawan atau kawan (khawatir mungkin bukan kapal lawan, hingga menahan
tembakan).
Tambor melapor ke Laksamana Robert English, Komandan Armada Kapal Selam, Armada Pasifik (
COMSUBPAC)
yang kemudian diteruskan ke Spruance via Nimitz. Spruance tidak tahu
lokasi sebenarnya armada Yamamoto, dan menyangka kapal-kapal tersebut
adalah armada invasi ke Midway. Ia berusaha mengadangnya di sekitar 100
mil laut (185 km) timur laut Midway. Malam berlalu tanpa terjadi
bentrokan.
[82]
Kapal-kapal Jepang yang dilihat
Tambor adalah unit bombardemen
Yamamoto yang terdiri dari empat kapal penjelajah dan dua kapal
perusak. Pada pukul 02.55, mereka diperintahkan untuk mundur ke barat.
[83] Kehadiran
Tambor juga diketahui kapal-kapal Jepang.
Mogami dan
Mikuma berbenturan ketika keduanya berbelok untuk menghindari
Tambor. Kerusakan
Mogami di bagian lunas
[84]
merupakan satu-satunya prestasi yang dicapai delapan belas kapal selam
Amerika Serikat yang dikerahkan dalam pertempuran ini. Pada pukul 04.12
langit cukup terang bagi untuk mengenali kapal-kapal tersebut adalah
kapal Jepang, namun Murphy memerintahkan
Tambor untuk menyelam. Pada pukul 06.00, Murphy melaporkan dua kapal penjelajah kelas
Mogami berlayar ke arah barat, dan menempatkan Spruance paling sedikit 100 mil laut (185 km) dari posisi kapal-kapal Jepang.
[85] Spruance mungkin beruntung tidak mengejar kapal-kapal Jepang. Bila bertemu dengan kapal-kapal berat Yamamoto, termasuk
Yamato dalam kegelapan, kapal-kapal penjelajah Spruce akan kewalahan, dan kapal-kapal induknya tidak berdaya.
[86] Pada waktu itu, hanya
Fleet Air Arm milik Britania yang dapat beroperasi di waktu malam.
[87]
Sepanjang dua hari berikutnya, sisa-sisa kapal Jepang mendapat
serangan dari pesawat-pesawat yang berpangkalan di Midway, diteruskan
oleh pesawat-pesawat dari kapal induk Spruance.
Mikuma akhirnya tenggelam, sementara
Mogami selamat dari kerusakan berat dan kembali ke Jepang untuk diperbaiki. Kapten
Richard E. Fleming, penerbang dari Korps Marinir dianugerahi
Medal of Honor secara anumerta atas keberaniannya menyerang
Mikuma.
Sementara itu, Amerika Serikat berusaha menyelamatkan
Yorktown. USS
Vireo sedang menariknya pada sore 6 Juni ketika
Yorktown terkena dua torpedo yang diluncurkan dari kapal seram Jepang
I-168. Hanya ada sedikit korban di atas
Yorktown karena sebagian besar awak sudah diungsikan sebelumnya. Namun torpedo ketiga menghantam
USS Hammann yang sedang memberikan listrik tambahan untuk
Yorktown.
Hammann pecah menjadi dua dan 80 awak gugur. Sebagian besar korban tewas disebabkan meledaknya bom laut yang dibawa
Hammann.
Yorktown bertahan hingga pukul 06.00 pagi 7 Juni sebelum akhirnya tenggelam.
[sunting] Pascapertempuran
Setelah menang telak, dan pengejaran terhadap kapal-kapal Jepang makin berbahaya di dekat
Kepulauan Wake,
[88]
armada Amerika Serikat ditarik mundur. Sejarawan Samuel E. Morison pada
tahun 1949 menulis bahwa Spruance menjadi sasaran kritik karena tidak
mengejar kapal-kapal Jepang yang sedang mundur, dan memungkinkan mereka
untuk melarikan diri.
[89] Pada tahun 1975, Clay Blair menulis bila Spruance mengejar, kapal-kapalnya akan bertemu dengan armada Yamamoto, termasuk
Yamato
pada malam hari. Keadaan ini menguntungkan Jepang kapal-kapal
penjelajah Jepang, sementara Spruance tidak dapat meluncurkan
pesawat-pesawatnya.
[88]
Jepang kehilangan empat dari enam kapal induk yang dimiliki beserta
sejumlah besar penerbang yang sangat terlatih hingga mengakhiri ekspansi
Jepang di Pasifik. Kapal induk Jepang yang tersisa hanyalah
Shōkaku dan
Zuikaku. Kapal induk Jepang yang lainnya,
Ryūjō,
Junyo, dan
Hiyo berasal dari kelas di bawahnya.
Pada 10 Juni, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang memberikan konferensi
di hadapan perwira penghubung tentang hasil pertempuran secara tidak
lengkap. Alasannya, kerugian yang sebenarnya merupakan rahasia militer
yang tidak perlu diketahui semua perwira. Hanya Kaisar Hirohito yang
diberi tahu tentang jumlah kapal induk yang tenggelam dan pilot yang
gugur. Kaisar juga memilih untuk tidak segera menyampaikan hal ini ke
angkatan darat. Para pimpinan angkatan darat untuk beberapa waktu masih
percaya armada Jepang dalam keadaan siap tempur.
[90]
[sunting] Tuduhan kejahatan perang
Tiga penerbang Amerika Serikat,
Letnan Muda Wesley Osmus (pilot,
Yorktown), Letnan Muda Frank O'Flaherty (pilot,
Enterprise), dan
Aviation Machinist's Mate
B. F. (atau B. P.) Gaido (penembak/teknisi radio pesawat SBD yang
terbang bersama O'Flaherty) ditangkap Jepang selama pertempuran
berlangsung. Osmus ditahan di kapal perusak
Arashi, sementara O'Flaherty dan Gaido ditahan di kapal perusak
Nagara (atau kapal perusak
Makigumo, keterangan berbeda-beda menurut sumber). Menurut tuduhan, ketiganya dibunuh pihak Jepang.
[91]
Laporan yang disampaikan Laksamana Nagumo tentang Letnan Muda Osmus
menyatakan "Dia wafat tanggal 6 Juni dan dimakamka di laut". Catatan
Nagumo mencantumkan tujuh butir informasi, termasuk kekuatan armada
Fletcher, namun tidak mencatat tentang kematian O'Flaherty atau Gaido.
[92]
Pertempuran ini sering disebut sebagai "titik balik dalam Perang Pasifik".
[93]
Namun Jepang terus mencoba bergerak maju di Pasifik Selatan. Amerika
Serikat masih perlu waktu berbulan-bulan untuk mengubah kekuatan lautnya
yang masih berimbang dengan Jepang menjadi supremasi di laut.
[94] Midway sendiri tidak mengubah jalannya peperangan seperti halnya
Pertempuran Salamis atau
Pertempuran Trafalgar. Walaupun demikian, Midway merupakan kemenangan telak pertama Sekutu melawan Jepang yang sebelumnya tidak terkalahkan. Setelah
Pertempuran Laut Koral
berakhir dengan tidak jelas pemenangnya dan Pertempuran Midway,
inisiatif strategi Jepang menjadi tumpul, dan Amerika Serikat merebut
kemampuan ofensif Jepang.
[6] Pertempuran Midway membuka jalan bagi kampanye militer berikutnya di sekitar
Kepulauan Solomon dan
Guadalkanal yang dimenangkan Sekutu setelah secara berkepanjangan menghabiskan tenaga musuh dengan segala kekuatan militer yang ada.
Pertempuran Midway menunjukkan pentingnya usaha-usaha memecahkan
sandi musuh dan pelatihan kriptologi angkatan laut sebelum pertempuran
berlangsung. Usaha pemecahan sandi musuh terus berlanjut di medan perang
Pasifik dan Atlantik. Pemecahan sandi musuh terbukti sangat penting,
misalnya pesawat Laksamana Yamamoto dapat ditembak jatuh berkat bantuan
analisis sandi angkatan laut.
Pertempuran Midway secara permanen merusakkan daya serang Angkatan
Laut Jepang, dan kehilangan kemampuan operasional pada tahap yang
menentukan terbukti fatal. Secara khusus, pertempuran ini mengakibatkan
kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap armada kapal induk
Jepang, begitu parah hingga mereka tidak dapat lagi membentuk armada
kapal induk berukuran besar dengan awak pesawat yang terlatih baik.
Pemimpin perang Jepang tidak memiliki persiapan untuk menggantikan
kapal-kapal yang hancur, serta penerbang atau pelaut yang tewas. Di
Midway, total penerbang Jepang yang tewas dalam sehari sama dengan total
penerbang yang dihasilkan program pelatihan pilot sebelum perang dalam
setahun.
[95] Pengalaman tempur mereka juga tidak mungkin tergantikan. Setelah
Pertempuran Solomon Timur dan
Pertempuran Santa Cruz, jumlah awak pesawat veteran makin menipis.
[96] Juga tidak kalah pentingnya, Jepang kehilangan empat kapal induk,
[97] dan kekuatan kapal induk Jepang tidak pulih hingga 1944.
[98] Pada
Pertempuran Laut Filipina,
walaupun Jepang sepertinya sudah membangun kembali kekuatan kapal induk
mereka, pesawat-pesawat Jepang sebagian diterbangkan oleh pilot yang
tidak berpengalaman sehingga kekuatan udara Jepang tidak seampuh sebelum
Pertempuran Midway.
Pada saat yang bersamaan, Angkatan Laut Amerika Serikat mengerahkan
lebih dari dua lusin armada dan kapal induk ringan, serta berbagai kapal
induk pengawal.
[99] Pada 1942, program pembangunan kapal Amerika Serikat telah memasuki tahun ketiga. Program ini dimulai dengan adanya
Undang-Undang Vinson Kedua yang bertujuan membangun angkatan laut Amerika Serikat yang lebih besar dari Jepang.
[100]
Berbeda halnya dengan Jepang, sebagian besar awak pesawat Angkatan Laut
Amerika Serikat selamat dari Pertempuran Midway dan pertempuran lainnya
pada tahun 1942. Ditambah dengan adanya peningkatan program pelatihan,
Amerika Serikat dapat menambah jumlah penerbang berpengalaman untuk
mengimbangi jumlah kapal perang dan pesawat militer yang makin
meningkat.
[sunting] Pencarian kapal-kapal yang tenggelam
Mikuma beberapa saat sebelum tenggelam.
Kedalaman laut di lokasi pertempuran bisa mencapai 5.200 m hingga
sangat sulit mencari kapal-kapal yang karam. Pada 19 Mei 1998,
Robert Ballard bersama tim ilmuwan dan veteran perang Midway (termasuk partisipan dari Jepang) menemukan dan memotret
Yorktown
di dasar laut. Kapal ini masih sangat utuh untuk sebuah kapal yang
tenggelam pada tahun 1942. Walaupun sudah lama tenggelam, peralatan dan
bahkan cat kapal masih bisa terlihat.
[101]
Usaha Ballard menemukan kapal induk Jepang tidak berhasil. Pada
September 1999, ekspedisi gabungan antara Nauticos Corp. dan Kantor
Oseanografi Angkatan Laut Amerika Serikat diberangkatkan untuk mencari
kapal induk Jepang. Dengan memakai teknik renavigasi canggih sesuai log
kapal selam USS
Nautilus, ekspedisi ini menemukan potongan besar puing kapal yang kemudian diidentifikasi berasal dari dek hanggar bagian atas
Kaga.
[102] Namun puing kapal utama masih belum ditemukan.
Pertempuran Midway telah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Film yang pertama berupa dokumenter yang disutradarai
John Ford,
letnan kolonel laut dari Cadangan Angkatan Laut Amerika Serikat yang
sedang ditugaskan untuk sementara di Kepulauan Midway sebagai perwira
fotografi dan intelijen. Ketika sedang mengambil gambar memakai kamera
16 mm berwarna dari atas pembangkit listrik di pulau, Ford terkena
tembakan musuh yang berasal dari pesawat tempur Jepang dan luka di
bagian tangan karena pecahan peluru. Ia menerima bintang
Purple Heart dan kemudian Legion of Merit. Film dokumenter yang diambil Ford dimasukkan ke dalam film dokumenter pemenang
Academy Award tahun 1942,
The Battle of Midway.
Di Jepang, pertempuran ini diangkat sebagai dalam film berbiaya besar,
Storm Over the Pacific produksi
Toho tahun 1960. Sutradara
Shūe Matsubayashi mengisahkan para penerbang muda pesawat Zero yang bertugas di kapal induk
Hiryū
dan partisipasi mereka dalam Pengeboman Pearl Harbor dan Pertempuran
Midway. Setelah disulih suara, versi ringkas film ini diedarkan di
Amerika Serikat dengan judul sensasional,
I Bombed Pearl Harbor.
Enam belas tahun kemudian Universal Studios menggunakan kapal-kapal miniatur dan efek
piroteknik untuk film
Midway (1976) yang dibintangi
Charlton Heston.
Sebagian cerita ini berdasarkan fiksi dan mengandalkan film dokumenter
dari berbagai pertempuran Perang Dunia II, dan stok gambar dari film
sebelumnya seperti
Tora! Tora! Tora!,
Thirty Seconds Over Tokyo,
Away All Boats, dan
Storm over the Pacific.

Pesawat pengebom tukik Douglas SBD-3 Dauntless untuk ketiga kalinya sedang menyerang kapal penjelajah Mikuma yang sedang terbakar. |
|
|
| Pihak yang terlibat |

Amerika Serikat
|

Kekaisaran Jepang
|
| Komandan |
Chester W. Nimitz
Frank J. Fletcher
Raymond A. Spruance |
Yamamoto Isoroku
Nobutake Kondo
Chūichi Nagumo
Tamon Yamaguchi †
Ryusaku Yanagimoto (†) |
| Kekuatan |
3 kapal induk,
~25 kapal pendukung,
233 pesawat kapal induk,
127 pesawat dari pangkalan di darat |
4 kapal induk,
2 kapal tempur,
~15 kapal pendukung (kapal penjelajah ringan dan berat, kapal perusak),
248[1] pesawat kapal induk, 16 pesawat amfibi
Tidak ikut serta:
2 kapal induk ringan,
5 kapal tempur,
~41 kapal pendukung |
| Jumlah korban |
1 kapal induk tenggelam,
1 kapal penjelajah tenggelam,
98 pesawat hancur[rujukan?],
307 tewas[2] |
4 kapal induk tenggelam,
1 kapal penjelajah tenggelam,
248 pesawat kapal induk hancur,
3.057 tewas |